Welcome Pontianak Centre
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Barat. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Wisata

Hutan Wisata Baning
terletak di Kab.Sintang dan mungkin merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki hutan tropis asli ditengah kota dengan luas 315 Ha, dengan beraneka ragam jenis pohon besar, beraneka macam anggrek dan kantong semar. Lokasi ini dapat ditempuh melalui darat dan udara dari Pontianak.


Bukit Kelam
terletak di Kab. Sintang dengan potensi dan daya tarik yang dapat digunakan untuk terbang layang dan panjat tebing. Lokasi ini dapat ditempuh melalui jalan darat.

Penakaran Ikan Arwana
merupakan ikan khas Kalimantan Barat yaitu Ikan Arwana Super Red yang mempunyai harga jual tinggi dan digemari oleh masyarakat tionghoa.

Air Terjun Mananggar
terletak di Kec. Air Besar Kab. Pontianak, dengan potensi daya tarik berupa air terjun 7 tingkat dengan ketinggian setiap tingkat sekitar 70 meter.

Cagar Alam Raya Pasi
terletak 10 KM dari kota Singkawang atau 155 KM dari Pontianak dengan potensi daya tarik berupa Raflesia arnoldi.

Cagar Alam Mandor
terletak di Kab. Pontianak kurang lebih 88 KM dari Pontianak.

Air Terjun Nokanayan
di Kecamatan Ambalan Kab. Sintang berupa panorama alam yang indah dengan ketinggian air terjun sekitar 180 meter.

Taman Nasional Bukit Baka
terletak di Kec. Seramai Kab. Sintang yang memiliki hutan pegunungan dengan fauna seperti rusa, orang utan, dan berbagai jenis burung.

Pantai Kijing
Pantai Pasir Panjang dan tanjung Batu terdapat di Kab. Sambas.

Tugu Khatulistiwa
terletak 3 Km dari pusat Kotamadya Pontianak sebagai tanda bahwa Pontianak dilalui Garis Khatulistiwa (Garis Lintang 0) sehingga setiap tanggal 2 s/d 23 Maret dan 21 s/d 23 September setiap tahunnya pada tengah hari (waktu Dhuhur), tugu dan benda disekitarnya tidak berbayang (Matahari tepat berada pada titik kulminasi). Tugu Khatulistiwa dibangun pada tahun 1928.

Makam Juang Mandor
terletak di Kab. Pontianak merupakan makam akibat peristiwa pembunuhan besar-besaran secara kejam pada tanggal 28 Juni 1944 pada masa penjajahan Jepang, berdasarkan catatan sebanyak 21.037 jiwa korban dimakamkan dalam 10 makam masal.

Makam Raja-Raja Pontianak
terletak di Kec. Siantan Hilir (55 Km dari Pontianak) dapat dicapai melalui kendaraan darat, atau melalui sungai (Sampan/Speed Boat).

Museum Negeri Pontianak, terletak di Pontianak

Istana Keraton Amantubillah
terletak di Mempawah; Istana kraton Sambas di Kabupaten Sambas
Adat Dayak/Betang, merupakan rumah khas suku dayak.

Kerajinan dari limbah kayu yang diolah kembali
Dalam berbagai bentuk seperti tikar, alas makanan, sandaran jok mobil
Pengolahan lidah buaya (aloevera)
Yang dibuat aneka makanan dan minuman, seperti manisan lidah buaya, dodol lidah buaya serta minuman kemasan lidah buaya.

Kerajinan Keramik Tiongkok di Singkawang (perjalanan 6 jam PP)

Masjid Jami
merupakan salah satu masjid tertua di Kota Pontianak letaknya sangat strategis berada ditepi sungai Kapuas dan berada di depan pelabuhan antar kota

Kondisi Alam

Iklim di kalimantan barat beriklim tropik basah, curah hujan merata sepanjang tahun dengan puncak hujan terjadi pada bulan Januari dan Oktober suhu udara rata-rata antara 26,0 s/d 27,0.kelembapan rata-tara antara 80% s/d 90%

Sejarah


Menurut kakawin Nagarakretagama (1365), Kalimantan Barat menjadi taklukan Majapahit, bahkan sejak zaman Singhasari yang menamakannya Bakulapura. Menurut Hikayat Banjar (1663), negeri Sambas, Sukadana dan negeri-negeri di Batang Lawai (nama kuno sungai Kapuas) pernah menjadi taklukan Kerajaan Banjar sejak zaman Hindu. Sejak 1 Oktober 1609, Kerajaan Sambas menjadi daerah protektorat VOC-Belanda. Sesuai perjanjian 20 Oktober 1756 VOC-Belanda akan membantu Sultan Banjar Tamjidullah I untuk menaklukan kembali daerah-daerah yang memisahkan diri diantaranya Sanggau, Sintang dan Lawai (Kabupaten Melawi). Menurut akta tanggal 26 Maret 1778 negeri Landak dan Sukadana diserahkan kepada VOC-Belanda oleh Sultan Banten. Inilah wilayah yang mula-mula menjadi milik VOC-Belanda selain daerah protektorat Sambas. Pada tahun itu pula Pangeran Syarif Abdurrahman Alkadrie direstui VOC-Belanda sebagai Sultan Pontianak yang pertama dalam wilayah milik Belanda tersebut. Pada tahun 1789 Sultan Pontianak dibantu Kongsi Lan Fang diperintahkan VOC-Belanda untuk menduduki negeri Mempawah. Pada tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam dari Banjar menyerahkan Jelai, Sintang dan Lawai (Kabupaten Melawi) kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pada 1855, negeri Sambas dimasukan ke dalam wilayah Hindia Belanda mejadi Karesidenan Sambas.

Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal yang dimuat dalam STB 1938 No. 352, antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibukota wilayah administratif Gouvernement Borneo berkedudukan di Banjarmasin dibagi atas 2 Residentir, salah satu diantaranya adalah Residentie Westerafdeeling Van Borneo dengan ibukota Pontianak yang dipimpin oleh seorang Residen.

Pada tanggal 1 Januari 1957 Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi yang berdiri sendiri di Pulau Kalimantan, berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang tersebut juga menjadi dasar pembentukan dua provinsi lainnya di pulau terbesar di Nusantara itu. Kedua provinsi itu adalah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Kalimantan Barat


Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan, dan beribukotakan Pontianak.

Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki propinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.

Walaupun sebagian kecil wilayah Kalbar merupakan perairan laut, akan tetapi Kalbar memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat menurut sensus tahun 2000 berjumlah 4.073.430 jiwa (1,85% penduduk Indonesia).